Membuka Potensi Biochar untuk Carbon Credit Indonesia

Membuka Potensi Biochar untuk Carbon Credit Indonesia

Recent Post

Bio Digester solusi Renewable Energy & Efisiensi

Bio Digester adalah teknologi ramah lingkungan yang mengubah limbah organik menjadi energi biogas dan pupuk organik berkualitas. Solusi ini membantu mengurangi pencemaran, menyediakan energi terbarukan, sekaligus memberi nilai tambah dari sisa limbah yang biasanya...

Written by

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim, pemerintah Indonesia semakin mendorong berbagai sektor industri untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini dilakukan melalui penerapan regulasi dan inisiatif yang mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca. Salah satu solusi yang mulai populer adalah carbon credit, yang tidak hanya membantu industri mengurangi dampak lingkungannya tetapi juga memberikan peluang untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

Carbon credit adalah bentuk insentif dalam upaya pengurangan emisi. Perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu, seperti regulasi program pengurangan emisi, dapat menghasilkan atau membeli kredit karbon sebagai kompensasi atas emisi yang mereka hasilkan. Salah satu cara memperoleh carbon credit adalah dengan memproduksi biochar, sebuah material yang kaya akan karbon yang dihasilkan dari pengolahan biomassa melalui proses pirolisis.

 Artikel ini akan membahas apa itu carbon credit, perbedaannya dengan perdagangan karbon, potensi produksi biochar sebagai solusi pengurangan emisi, dan bagaimana sektor industri di Indonesia dapat memanfaatkannya.

Apa itu Carbon Credit?

Carbon credit adalah sertifikat yang mewakili pengurangan emisi sebesar satu ton karbon dioksida (1000 kg) atau gas rumah kaca lainnya. Perusahaan yang berhasil mengurangi emisi mereka dapat menjual kredit karbon ini kepada perusahaan lain yang tidak dapat melakukan pengurangan emisi, tetapi ingin menunjukkan kredibilitas lingkungan mereka.

 

Carbon Trading

Perdagangan karbon adalah sistem di mana perusahaan dapat membeli dan menjual kredit karbon tersebut di pasar terbuka. Perdagangan ini membantu mengalihkan tanggung jawab pengurangan emisi kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk melakukannya dengan lebih efisien. Dengan sistem ini, perusahaan yang tidak mampu mengurangi emisi secara langsung bisa memenuhi kewajiban mereka dengan membeli kredit dari pihak lain yang telah berhasil mengurangi emisi lebih banyak.

Perbedaan antara carbon credit dan perdagangan karbon terletak pada fungsinya: carbon credit adalah unit yang mewakili pengurangan emisi, sedangkan perdagangan karbon adalah mekanisme yang memungkinkan kredit tersebut diperjualbelikan. Keduanya saling berhubungan erat dalam upaya global untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Biochar sebagai Salah Satu Cara Mendapatkan Carbon Credit

Salah satu cara untuk mendapatkan carbon credit di Indonesia adalah melalui produksi biochar. Biochar dihasilkan melalui proses pirolisis, di mana biomassa dipanaskan dalam kondisi tanpa oksigen untuk menghasilkan material karbon yang sangat stabil. Karbon yang terkandung dalam material organik terkunci dalam struktur biochar yang dihasilkan. Oleh karena itu, teknologi yang digunakan bersifat karbon negatif. Selain itu, karena kandungan karbonnya yang tinggi, biochar mencegah karbon dilepaskan ke atmosfer dengan menstabilkannya dalam bentuk padat, menjadikannya alat yang efektif untuk penyerapan karbon (carbon sequestration) jangka panjang dan mengurangi emisi karbon.

Potensi Biomassa di Indonesia

[edm_gallery gallery_ids=”34776,34777,34780″ gallery_layout=”masonry” gallery_col_padding=”1px” _builder_version=”4.27.2″ _module_preset=”default” max_height=”1000px” global_colors_info=”{}”][/edm_gallery]

Indonesia adalah salah satu negara penghasil biomassa terbesar di dunia. Limbah dari sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan dapat diolah menjadi biochar melalui penggunaan pirolisis. Teknologi ini tidak hanya mengurangi limbah dan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi industri yang beralih ke solusi energi terbarukan.

Industri kelapa sawit, misalnya, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi pirolisis dalam mengolah limbah biomassa menjadi biochar. Berdasarkan data Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI), di Indonesia ada 895 unit pabrik kelapa sawit yang beroperasi. Apabila semua kapasitasnya adalah 60 tph Tandan Buah Segar (TBS), dan menghasilkan 90.000 ton limbah padat dan 241.200 ton limbah cair dalam setahun, maka di Indonesia ada 80,5 juta ton/tahun limbah padat yang dihasilkan. Limbah padat dari industri kelapa sawit adalah seperti cangkang sawit, tandan kosong, dan serat buah.

Dengan sumber daya biomassa yang melimpah, biochar dapat menjadi solusi efektif dan menguntungkan untuk pengurangan emisi di sektor ini. Sehingga, pirolisis dapat menjadi langkah penting dalam perdagangan karbon, memungkinkan industri di Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam skema carbon credit global.

Peraturan di Indonesia

Peraturan di Indonesia untuk Mendorong Pengurangan Emisi dan Energi Terbarukan

Seiring dengan peningkatan suhu global, pemerintah telah memperketat regulasi terkait pengurangan emisi dan meningkatkan komitmen untuk penggunaan energi terbarukan. Mengingat Indonesia telah menjadi bagian dari Paris Agreement, peraturan baru pada tahun 2023 dan 2024 semakin mempertegas langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapai target iklim nasional. Pada tahun 2025, pemerintah Indonesia menargetkan kontribusi pengembangan energi terbarukan terhadap kebutuhan energi beban dasar mencapai 23%.

Beberapa regulasi penting yang mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca dan transisi energi di Indonesia antara lain:

  1. Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2022: Mengatur tentang percepatan pengembangan energi terbarukan, terutama pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan.
  2. Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2014: Mengarahkan kebijakan energi nasional yang menargetkan pengurangan emisi karbon secara signifikan dan meningkatkan peran energi terbarukan.
  3. Undang-Undang (UU) No. 30 Tahun 2007: Mengatur tentang energi, termasuk pengembangan energi terbarukan sebagai salah satu prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
  4. Peraturan Menteri ESDM No. 50 Tahun 2017: Memberikan insentif bagi perusahaan yang menggunakan energi terbarukan, termasuk tarif khusus untuk proyek energi terbarukan.

Regulasi Terkait Carbon Credit di Indonesia

Selain mendorong penggunaan energi terbarukan, Indonesia juga memperkuat regulasi mengenai perdagangan karbon melalui berbagai kebijakan, termasuk:

  1. Perpres No. 98 Tahun 2021: Mengatur tentang pelaksanaan nilai ekonomi karbon untuk mencapai target pengendalian emisi gas rumah kaca.
  2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 14 Tahun 2023: Memfasilitasi pembiayaan hijau dan perdagangan karbon, termasuk panduan bagi entitas yang ingin terlibat dalam skema perdagangan karbon.
  3. Permen LHK No. 21 Tahun 2022: Mengatur tentang mekanisme pelaksanaan dan registrasi kegiatan yang berhubungan dengan kredit karbon.

    Cara Mendapatkan Carbon Credit di Indonesia

    Bagi perusahaan yang ingin mendapatkan manfaat dari skema carbon credit di Indonesia, ada beberapa langkah yang harus diikuti. Organics, sebagai EPC yang handal dalam proyek energi terbarukan dan pirolisis, siap membantu perusahaan dalam menjalankan proyek-proyek dekarbonisasi untuk mendapatkan kredit karbon. Berikut adalah Langkah-langkah yang harus diikuti:

    1. Pengembangan Proyek

    Fase ini mencakup beberapa kegiatan, seperti memilih metodologi validasi, melakukan perhitungan dan pemilihan, memperkirakan pengurangan emisi proyek, dan membuat rencana dan dokumentasi proyek.

    2. Validasi

    Proses validasi diselesaikan sebelum pendaftaran. Beberapa badan pendaftaran sukarela mengizinkan proyek skala kecil untuk divalidasi bersamaan dengan verifikasi setelah pendaftaran.

    3. Pendaftaran

    Proyek harus didaftarkan di bawah mekanisme badan pendaftaran sukarela PBB.

    4. Pemantauan & Verifikasi

    Pemantauan dilakukan sesuai dengan rencana proyek dan diverifikasi oleh verifikator independen.

    5. Penerbitan Kredit Karbon

    Kredit karbon dikeluarkan untuk proyek yang telah diverifikasi.

    Dengan regulasi yang mendukung dan potensi besar di sektor energi terbarukan, Indonesia siap menjadi pemain utama dalam upaya global untuk mengurangi emisi dan memanfaatkan potensi energi terbarukan.

    Mengapa Memilih Organics untuk Mendukung Carbon Credit?

    Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam energi terbarukan, Organics telah menjadi pemimpin dalam mendukung pengurangan emisi karbon melalui teknologi mutakhir, seperti biomethane capture dan pirolisis. Pengalaman kami yang luas di berbagai negara di dunia membuktikan bahwa Organik memiliki memiliki catatan prestasi yang luar biasa.

    Salah satu teknologi inovasi terkini kami adalah Pyroclast, teknologi paten dirancang khusus untuk memproses biomassa menjadi biochar. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah apa yang biasanya dianggap sebagai beban menjadi sumber daya yang bernilai. Selain itu, biochar yang dihasilkan melalui pirolisis memiliki berbagai manfaat lingkungan, termasuk meningkatkan kesehatan tanah dan mencegah pelepasan karbon dioksida ke atmosfer.

     

    Keunggulan Organics dalam Proyek Energi Terbarukan

    1. Pengalaman Global: Organics memiliki rekam jejak yang kuat dalam proyek energi terbarukan di Asia maupun Eropa, membuktikan diri sebagai mitra terpercaya dalam teknologi yang mendukung keberlanjutan.
    2. Teknologi Terdepan: Pyroclast dirancang untuk efisiensi tinggi dan penghematan biaya, memastikan hasil yang maksimal dan sistem pasca-commissioning yang andal, dirancang untuk meningkatkan profitabilitas operasi.
    3. Biaya Efektif: Kami menyediakan solusi teknis inovatif yang hemat biaya.

    Penutup dan Kesimpulan

    Biochar merupakan solusi efektif untuk mengatasi peningkatan emisi karbon di Indonesia, dan sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi gas rumah kaca. Carbon credit menjadi insentif penting bagi perusahaan untuk mengurangi emisi, dan biochar yang dihasilkan dari pirolisis biomassa dapat meningkatkan kualitas tanah serta menyimpan karbon dioksida, yang akhirnya dapat mengurangi emisi.

    Organics, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dan teknologi pirolisis yang terpercaya, siap untuk menjadi mitra Anda dalam proyek-proyek carbon credit. Kami berkomitmen untuk memberikan solusi berkualitas tinggi dan biaya efektif.

     

    Hubungi kami hari ini untuk menjelajahi teknologi pirolisis penghasil biochar dan potensi energi terbarukan lainnya!

     

     

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru.

    Sumber :

    Proses Pirolisis dan Pembuatan BioChar: Dampak Lingkungan, Teknologi, dan Metode Produksi

    Proses Pirolisis dan Pembuatan BioChar: Dampak Lingkungan, Teknologi, dan Metode Produksi

    Isometric illustration of Anaerobic Digester in Organics Bali

    Written by

    Minat terhadap kredit karbon dari biochar di Indonesia semakin meningkat, terutama di kalangan perusahaan di sektor kelapa sawit dan pertanian. Industri-industri ini tengah mencari cara untuk mengurangi jejak karbon dan meningkatkan citra keberlanjutan mereka. Akan tetapi, pasar kredit karbon dari biochar di Indonesia masih relatif baru dan berkembang. Meskipun permintaan kredit karbon dari biochar di Indonesia saat ini mungkin terbatas, ada potensi pertumbuhan di masa mendatang seiring meningkatnya kesadaran akan manfaat biochar dan kredit karbon. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif tentang biochar, produksi, dan juga kredit karbon.

    Apa itu Biochar dan Bagaimana Cara Produksinya

    Pengertian Biochar

    Biochar adalah produk organik yang dibuat dengan memanaskan biomassa dalam lingkungan bebas oksigen. Proses ini menghasilkan bentuk karbon yang stabil, yang dapat digunakan sebagai amandemen tanah untuk meningkatkan kesehatan tanah, serta metode penyerapan karbon untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Biomassa yang digunakan untuk produksi biochar dapat bersumber dari berbagai bahan baku, yang berkisar dari tempat pembuangan sampah, limbah pertanian, atau limbah hewan. Karakteristik yang berbeda antara bahan baku akan menghasilkan berbagai jenis karbon yang terdapat dalam biochar.

    Biochar memiliki manfaat yang bermanfaat dalam pertanian, yaitu untuk perbaikan tanah, retensi nutrisi, pengaturan pH, dan masih banyak lagi. Biochar juga dapat digunakan untuk menghasilkan kredit karbon, yang merupakan sertifikat yang dapat diperdagangkan yang mewakili pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Produksi BioChar dengan Pirolisis

    Biochar diproduksi dengan menggunakan teknologi pirolisis. Organics memiliki teknologi pirolisis internal yang disebut Pyroclast®, yang dirancang untuk pembuangan limbah akhir dan produksi karbon. Teknologi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, baik yang difokuskan pada pembuangan limbah, daur ulang, produksi energi, atau bahkan untuk produksi arang karbon. Biochar juga mampu menangani berbagai bahan baku termasuk limbah kayu, bambu, digestate dari pencernaan anaerobik, dan bahan lain yang sesuai. Proses Pirolisis untuk Produksi Biochar.

    Proses Pirolisis untuk menghasilkan Biochar

    Berbeda dengan insinerasi, Pirolisis mengoperasikan ruang loop tertutup tanpa adanya oksigen dan api. Pyroclast tersedia untuk menangani 3,6 hingga 240 ton per hari untuk bahan baku kering, dan 6 hingga 40 ton per hari untuk bahan baku basah. Sistem ini terdiri dari:

    • Waste reception and feed
    • Drier
    • Pyrolyser
    • Thermal oxidiser for steam cycle
    • Boiler and steam turbine
    • Gas clean-up for pyrogas engine cycle
    • Gas engine or gas turbine

    Proses Pirolisis adalah:

    1. Pengondisian biomassa

    Pada tahap awal, bahan baku mungkin perlu dikondisikan untuk memenuhi standar yang diperlukan. Biomassa perlu dicacah hingga ukuran maksimum yang dapat diterima (sebaiknya 20 – 50 mm), dan harus memiliki kadar air tertentu (idealnya di bawah 20% untuk produksi biochar).

    2. Dekomposisi Termal

    Kemudian biomassa masuk ke reaktor pirolisis atau piroklas untuk dikarbonisasi pada suhu 450-800°C dalam reaktor tabung-ulir yang dipatenkan dengan waktu tinggal yang lambat hingga 30 menit tanpa adanya udara.

    Proses ini disebut sebagai proses degradasi termal yang mengubah limbah padat menjadi gas, yang disebut sebagai pirogas atau syngas, tergantung pada mekanisme prosesnya. Residu padat dari proses tersebut disebut Biochar, dari kandungan organik (biomassa) atau arang karbon.

    3. Pembuangan

    Gas dapat dilepaskan ke atmosfer, sehingga akan segera dihancurkan dalam pengoksidasi termal bersuhu tinggi, memastikan perlindungan lingkungan yang maksimal. Panas yang tidak digunakan juga akan dibuang.

     

    Kandungan Biochar

    Biochar sebagian besar terdiri dari karbon dalam bentuk padat yang stabil, yang dapat bervariasi tergantung pada bahan baku biomassa dan kondisi pirolisis (seperti suhu, laju pemanasan, dan durasi). Berikut ini adalah kandungan Biochar:

    1. Fixed Carbon

    Ini adalah bentuk utama karbon dalam biochar, yang terdiri dari struktur karbon padat dan stabil yang tidak mudah menguap atau terurai pada suhu tinggi. Karbon tetap berkontribusi pada stabilitas jangka panjang biochar dalam tanah, membantu penyerapan karbon dan mengurangi laju dekomposisi.

    2. Zat Volatil

    Meskipun sebagian besar senyawa volatil (Volatile Matter) dikeluarkan selama pirolisis, sebagian besar terdiri dari berbagai bahan kimia berbasis karbon yang dapat lebih mudah menguap atau terurai. Kandungan zat volatil dalam biochar biasanya menurun seiring dengan meningkatnya suhu pirolisis.

    3. Abu

    Meskipun bukan jenis karbon, abu merupakan komponen penting dari biochar dan terdiri dari berbagai mineral anorganik dan garam yang terdapat dalam biomassa asli. Mineral ini dapat berkontribusi pada kesuburan tanah ketika biochar digunakan sebagai amandemen tanah.

    4. Karbon grafit

    Dalam beberapa kasus, terutama pada suhu pirolisis yang lebih tinggi, sebagian karbon dalam biochar dapat membentuk struktur grafit. Struktur ini merupakan bentuk karbon yang sangat teratur dan sangat stabil.

    Parameter lain yang terkandung dalam Biochar adalah:

    • kadar air: ini penting jika diperlukan proses pengeringan, dan dapat memengaruhi efektivitas yang berkurang
    • luas permukaan dan porositas: Penting untuk retensi air dan habitat mikroba.
    • Tingkat keasaman/ pH: Mempengaruhi pH tanah saat diaplikasikan sebagai amandemen.
    • Kandungan nutrisi: Penting untuk menentukan efektivitasnya sebagai penambah tanah.
    • Stabilitas: Menunjukkan umur panjangnya di tanah dan kemanjurannya dalam penyerapan karbon.

     

    Manfaat Biochar dalam Manajemen Lingkungan, Pertanian, dan Industri

     

    Peran Biochar dalam Manajemen Lingkungan

     

    Biochar memainkan peran penting dalam manajemen lingkungan dengan membantu penyerapan karbon dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Fotosintesis memungkinkan tanaman menyerap karbon dioksida (CO2), menyimpan karbon di dalam tanaman dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Namun, ketika tanaman mati atau ditebang, karbon yang tersimpan biasanya dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai CO2, yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

     

    Ada dua peran atau manfaat utama Biochar :

    Carbon Capture: Selama pirolisis, bahan organik seperti limbah pertanian dipanaskan, melepaskan gas volatil sambil meninggalkan biochar yang kaya karbon. Proses ini mencegah karbon dalam biomassa dilepaskan sebagai CO2, sehingga secara efektif menangkap karbon.

    Long-Term Carbon Storage: Biochar sangat tahan terhadap dekomposisi dan berfungsi sebagai penyerap karbon jangka panjang ketika diterapkan pada tanah. Biochar menyerap karbon untuk jangka waktu yang lama, yang berpotensi berlangsung selama beberapa dekade hingga abad, sehingga mencegah karbon memasuki kembali atmosfer melalui dekomposisi.

    Selain itu, biochar membantu mengurangi gas rumah kaca kuat lainnya—dinitrogen oksida (N2O). Ketika diterapkan pada tanah pertanian, biochar mengurangi emisi N2O dengan menciptakan lingkungan yang stabil bagi mikroorganisme yang terlibat dalam siklus nitrogen. Struktur berpori dan sifat kimianya membantu mempertahankan nutrisi dan meminimalkan pelepasan N2O, yang umumnya diproduksi di lingkungan kaya nitrogen melalui proses mikroba.

    Singkatnya, biochar menangkap karbon selama pirolisis, menyimpannya dalam jangka panjang di tanah, dan mengurangi emisi N2O yang berbahaya. Manfaat gabungan ini menjadikan biochar sebagai alat yang ampuh untuk mengurangi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesehatan tanah dan mendukung pertanian berkelanjutan.

     

    Biochar Sebagai Sumber Energi

     

    Selain manfaat lingkungannya, biochar dapat digunakan dalam produksi energi. Proses pirolisis tidak hanya menghasilkan biochar tetapi juga menghasilkan syngas dan bio-oil, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Syngas dapat digunakan untuk pembangkitan listrik, pemanas, atau sebagai bahan baku untuk memproduksi bahan kimia, sementara bio-oil dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif atau dimurnikan lebih lanjut menjadi berbagai bioproduk. Fungsi ganda ini meningkatkan keberlanjutan pengelolaan limbah biomassa, menyediakan penangkapan karbon dan pembangkitan energi terbarukan.

     

    Manfaat BioChar dalam Pertanian/ Agroindustri

    Biochar meningkatkan retensi air tanah, siklus nutrisi, dan aktivitas mikroba, yang mendorong tanah yang lebih sehat dan lebih produktif. Biochar juga menyediakan habitat bagi organisme tanah yang bermanfaat yang mendukung pertumbuhan tanaman.

    Peningkatan kualitas tanah

    Biochar meningkatkan retensi air tanah, siklus nutrisi, dan aktivitas mikroba, sehingga tanah menjadi lebih sehat dan produktif. Biochar juga menyediakan habitat bagi organisme tanah yang bermanfaat yang mendukung pertumbuhan tanaman.

    Penyimpanan nutrisi

    Dengan kapasitas tukar kation (CEC) yang tinggi, biochar mempertahankan nutrisi penting seperti kalium, fosfor, dan kalsium. Hal ini mengurangi limpasan dan pencucian nutrisi, sehingga tanaman memperoleh pasokan nutrisi yang stabil dari waktu ke waktu.

    Manjaga Tingkat keasaman tanah atau pH

    Tergantung pada sumbernya, biochar dapat memengaruhi pH tanah. Baik netral, sedikit basa, atau asam, biochar membantu mengatur kadar pH, mengoptimalkan kondisi untuk pertumbuhan tanaman dan penyerapan nutrisi.

    Mengendalikan Penyakit dan Hama

    Biochar secara tidak langsung membantu pengendalian penyakit dan hama dengan meningkatkan keanekaragaman mikroba di dalam tanah. Mikroba yang bermanfaat tumbuh subur, menekan patogen berbahaya, sementara struktur berpori biochar dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap hama tertentu.

    Ketersediaan Air

    Biochar meningkatkan retensi air tanah, mengurangi penguapan, dan meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman, terutama di daerah rawan kekeringan atau tanah berpasir dengan retensi air yang buruk.

    Selain penyerapan karbon, biochar memberikan manfaat tambahan seperti mengurangi limpasan nutrisi, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi kebutuhan akan pupuk sintetis. Keuntungan ini berkontribusi pada pertanian yang lebih berkelanjutan dan menawarkan keuntungan lingkungan dan ekonomi.

    Manfaat BioChar untuk Berbagai Sektor Industri

    Biochar, produk pirolisis yang kaya karbon, semakin diminati di berbagai industri karena keberlanjutan dan manfaatnya bagi lingkungan. Salah satu bidang yang menjanjikan adalah konstruksi, di mana penggabungan biochar ke dalam material seperti beton, semen, dan aspal diteliti secara aktif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan sifat material tetapi juga berkontribusi pada penyerapan karbon.

    Konstruksi

    1.      Beton adalah salah satu material konstruksi yang paling banyak digunakan, terdiri dari semen, agregat, dan air. Para peneliti telah menemukan bahwa menambahkan biochar sebagai pengganti sebagian semen dapat mengurangi kepadatan, meningkatkan isolasi termal, dan berpotensi meningkatkan kekuatan mekanis. Lebih jauh lagi, penggabungan ini dapat membantu mengimbangi emisi karbon dari produksi semen dengan menyerap karbon di dalam beton.

    2.      Produksi semen terkenal karena emisi karbon dioksidanya yang signifikan. Dengan menggunakan biochar sebagai pengganti sebagian dalam semen, industri dapat menciptakan alternatif rendah karbon atau netral karbon. Praktik ini mengurangi jejak karbon secara keseluruhan dan mendorong penyerapan karbon, yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan global.

    3.      Aspal, yang umum digunakan dalam konstruksi jalan, merupakan area lain yang menjanjikan dari biochar. Penelitian menunjukkan bahwa memasukkan biochar ke dalam campuran aspal dapat meningkatkan sifat mekanis, seperti daya tahan dan ketahanan terhadap keretakan. Hal ini tidak hanya meningkatkan umur permukaan jalan tetapi juga berkontribusi pada penangkapan karbon.

    Industri Farmasi, Kesehatan, Penelitian atau Laboratorium

    Selain konstruksi, biochar memainkan peran penting dalam pengelolaan limbah. Kemampuannya untuk membuang aliran limbah berbahaya dan klinis ke standar lingkungan yang tinggi patut diperhatikan. Memanfaatkan limbah padat kota campuran sebagai bahan baku dalam pirolisis dapat menghasilkan gas pirolisis, yang dapat dikontrol dan ditangkap untuk produksi etanol dan metana. Proses ini tidak hanya mengatasi pembuangan limbah tetapi juga menghasilkan sumber energi yang dapat dipulihkan.

    Industri lainnya

    Beroperasi pada suhu yang sesuai, sistem pirolisis dapat secara efektif mengelola limbah klinis sekaligus menghasilkan listrik. Banyak limbah industri, termasuk kendaraan bekas dan ban bekas, dapat diubah melalui pirolisis, menciptakan komoditas berharga dan secara signifikan mengurangi volume limbah.

    Secara keseluruhan, beragam aplikasi biochar dalam konstruksi dan pengelolaan limbah menyoroti potensinya untuk mendorong keberlanjutan dan perlindungan lingkungan di seluruh industri.

    Success Story : Pyrolysis of RDF, Puerto Montt, Chile

    Proyek pirolisis di Puerto Montt, Chili, memproses Refuse Derived Fuel (RDF) dari limbah pengolahan ikan, termasuk plastik. Pendekatan ini mengurangi limbah TPA dan menghasilkan energi panas untuk penggunaan di lokasi atau ekspor. Proses ini juga mengeringkan RDF, meningkatkan efisiensi.

    Manfaatnya meliputi pengurangan limbah, ketergantungan bahan bakar fosil yang lebih rendah, dan pemulihan bahan berharga, yang mendorong ekonomi sirkular. Beroperasi di lingkungan yang kekurangan oksigen, metode ini mengurangi emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan metode tradisional. Dengan kapasitas hingga 1.000 kg/jam RDF basah, proyek ini merupakan contoh pengelolaan limbah berkelanjutan dengan keuntungan lingkungan dan ekonomi yang signifikan.

     

    Kesimpulan

     

    Biochar menawarkan manfaat lingkungan yang signifikan, termasuk penyerapan karbon, peningkatan kesehatan tanah, dan produksi energi terbarukan. Aplikasinya mencakup pertanian, yang meningkatkan sifat tanah, dan industri, khususnya dalam konstruksi dan pengelolaan limbah, yang membantu mengurangi emisi dan mendorong keberlanjutan. Seiring dengan meningkatnya minat terhadap kredit karbon dari biochar di Indonesia, ada potensi untuk pengembangan lebih lanjut di pasar yang sedang berkembang ini.

    Untuk mempelajari lebih lanjut dan mengetahui bagaimana kami dapat membantu Anda, hubungi kami hari ini!

    Post Terbaru

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Indonesia, sebagai produsen utama minyak kelapa sawit di dunia, menghadapi tantangan signifikan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit. Setiap tahunnya, sejumlah besar residu pertanian seperti janjang kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB),...

    Lainnya….

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru.

    Proses konversi Biogas menjadi Listrik : Efisiensi Anaerobic Digester dalam Mengelola POME

    Proses konversi Biogas menjadi Listrik : Efisiensi Anaerobic Digester dalam Mengelola POME

    Isometric illustration of Anaerobic Digester in Organics Bali

    Written by

    Post Terbaru

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Indonesia, sebagai produsen utama minyak kelapa sawit di dunia, menghadapi tantangan signifikan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit. Setiap tahunnya, sejumlah besar residu pertanian seperti janjang kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB),...

    Lainnya….

    Indonesia, sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, menghasilkan jutaan ton limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) yang berpotensi besar untuk dikonversi menjadi energi terbarukan. Salah satu solusi efektif adalah mengolah POME menjadi biogas, yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan biaya operasional, dan menghasilkan listrik untuk operasional pabrik. Dalam artikel ini, akan dijelaskan secara komprehensif bagaimana proses konversi POME menjadi listrik melalui teknologi anaerobik digester tertutup.

    Potensi Energi Terbarukan dari POME di Indonesia

    Sebagai salah satu negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan energi terbarukan dari limbah industri kelapa sawit. Setiap tahunnya, pabrik kelapa sawit menghasilkan Palm Oil Mill Effluent (POME), yang jika diakumulasikan mencapai lebih dari 28 juta ton POME. Limbah ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menghasilkan gas rumah kaca seperti metana (CH4), yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO2) . Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang efektif untuk mengatasi masalah ini sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi perusahaan.

     

    Teknologi Anaerobik Digester: Solusi untuk POME

    Tahapan Proses Konversi POME Menjadi Listrik

    1. Penurunan suhu POME

    Anaerobic digestion lagoon_biogas

    Tahap awal dari proses ini adalah penyaluran POME dari pabrik kelapa sawit ke mixing pond atau kolam pengaduk. Limbah cair POME yang dihasilkan biasanya memiliki suhu yang tinggi, yaitu berkisar antara 60°C hingga 80°C . Oleh karena itu, di mixing pond dilakukan penyetaraan suhu dengan mencampurkan POME panas dengan POME yang sudah didinginkan dari kolam lainnya. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa POME memiliki suhu ideal sebelum dimasukkan ke dalam anaerobik digester.

     

    2. Pemindahan POME ke Kolam Tertutup

    Setelah suhu POME mencapai titik ideal, POME dipindahkan ke kolam tertutup. POME kemudian disalurkan ke kolam tertutup melalui pipa-pipa yang didistribusikan secara merata, sehingga mempercepat pencampuran dan distribusi bahan organik di dalam kolam.

    Kami biasanya mengoperasikan kolam Anaerobic Digester kami sebagai metode mesofilik, yaitu sekitar 25-40O C, yang ideal untuk Indonesia sesuai dengan karakteristik iklimnya. Metode lain seperti metode termofilik, beroperasi pada suhu yang lebih tinggi hingga 50-65OC. Meskipun metode termofilik menghasilkan lebih banyak gas, metode ini membutuhkan masukan panas tambahan, yang tidak praktis dengan digester kolam. Oleh karena itu, metode mesofilik lebih mudah dirawat.

     

    Tahapan Anaerobik Digester

    Di dalam kolam tertutup ini, terjadi proses anaerobik digester yang terdiri dari empat tahapan utama:

    • Hidrolisis: Molekul organik besar seperti karbohidrat dan protein dipecah menjadi molekul yang lebih kecil.
    • Asidogenesis: Molekul hasil hidrolisis dikonversi menjadi asam organik sederhana, alkohol, hidrogen, dan karbondioksida.
    • Asetogenesis: Asam organik diubah menjadi asetat, hidrogen, dan CO2.
    • Metanogenesis: Mikroorganisme menghasilkan gas metana (CH4) dari asetat dan hidrogen .

    Dalam kondisi mesofilik, proses ini berjalan lebih lambat dibandingkan dengan metode termofilik. Namun, metode termofilik meskipun membutuhkan kontrol suhu yang lebih ketat. Klik lebih lanjut untuk membaca tentang proses fermentasi Anaerobic Digester.

    3. Pemurnian Gas Biogas

    H2S scrubbers

    Setelah proses metanogenesis, gas biogas yang terbentuk terdiri dari campuran metana, karbon dioksida, dan sedikit kontaminan seperti hidrogen sulfida (H2S). H2S bersifat korosif dan dapat merusak peralatan jika tidak dihilangkan. Oleh karena itu, gas biogas disalurkan melalui bioscrubber untuk menghilangkan H2S. Setelah itu, gas didinginkan menggunakan chiller untuk mengurangi kelembapan dan dilewatkan melalui sistem pemurnian tambahan seperti siloxanne dan filter untuk menghilangkan kontaminan lainnya .

    4. Pembuangan Gas Berlebih

    Dalam kondisi tertentu, produksi gas biogas dapat melebihi kapasitas generator listrik. Ketika hal ini terjadi, supervisory control and data acquisition (SCADA) akan memberikan indikasi, dan sistem otomatis akan mengarahkan gas berlebih ke flare. Gas dibakar di flare dan dilepas ke atmosfer dengan aman sesuai standar internasional seperti AP-42 Compilation of Air Emissions Factors dari U.S. Environmental Protection Agency (EPA) . Proses ini memastikan bahwa gas yang dilepaskan tidak membahayakan lingkungan.

    5. Konversi Biogas Menjadi Listrik

    Setelah gas biogas dimurnikan, gas tersebut disalurkan ke power house untuk menggerakkan generator listrik. Gas metana yang dibakar dalam generator akan menghasilkan listrik yang bisa digunakan kembali oleh pabrik untuk berbagai keperluan. Untuk pabrik kelapa sawit dengan kapasitas produksi 60 ton per jam (tph), sistem biogas ini dapat menghasilkan listrik sebesar 2 hingga 4 megawatt electrical (MWe), tergantung pada kualitas POME dan metode yang digunakan.

    Keamanan dan Efisiensi Sistem

    Sistem yang dirancang oleh Organics Bali selalu mengutamakan keamanan dan efisiensi, dengan minimnya kebutuhan pengawasan dan perawatan. Hal ini memungkinkan pengurangan kebutuhan tenaga kerja di lapangan, serta meningkatkan keandalan sistem dalam jangka panjang. Umur operasional dari pabrik biogas dengan sistem kolam tertutup umumnya berkisar antara 10 hingga 15 tahun, dengan perawatan rutin yang dilakukan setiap 5 hingga 7 tahun untuk mengganti material atau memperbaiki bagian yang rusak .

     

    Biogas untuk Co-Firing

    Biogas yang dihasilkan dari proses anaerobik digester tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga memiliki aplikasi penting dalam co-firing dengan bahan bakar fosil untuk menjalankan boiler. Setelah biogas dimurnikan dan siap digunakan, ia dapat dialirkan ke boiler sebagai salah satu sumber energi. Proses co-firing ini memungkinkan pabrik kelapa sawit untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang pada gilirannya mengurangi emisi karbon dan biaya bahan bakar. Dengan menggabungkan biogas dengan bahan bakar fosil, pabrik dapat memanfaatkan energi dari limbah secara efisien dan berkelanjutan, sambil tetap menjaga kestabilan operasional boiler.

     

    Efisiensi dan Manfaat Co-Firing

    Menurut penelitian oleh Kumar et al. (2021), co-firing biogas dengan batubara dalam boiler industri dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 30% dibandingkan dengan penggunaan batubara murni. Selain itu, penggunaan biogas untuk co-firing dapat meningkatkan efisiensi boiler dengan mengoptimalkan pembakaran dan mengurangi akumulasi residu abu. Dalam aplikasi ini, biogas berfungsi sebagai sumber energi tambahan yang membantu mempertahankan suhu operasi dan stabilitas pembakaran.

     

    Sistem Co-Firing yang Efisien

    Sistem co-firing yang dirancang dengan baik dapat memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar utama atau tambahan, tergantung pada ketersediaan dan kualitas biogas. Menurut laporan oleh International Renewable Energy Agency (IRENA) (2022), co-firing biogas dapat meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam sistem energi industri secara signifikan dan mendukung pencapaian target energi bersih.

     

    Kesimpulan

    Proses konversi Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi listrik melalui teknologi anaerobik digester menawarkan solusi efektif untuk tantangan lingkungan dan ekonomi di industri kelapa sawit. Dengan mengolah POME menjadi biogas, pabrik kelapa sawit dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, mengelola limbah secara berkelanjutan, dan mengurangi biaya operasional. Teknologi anaerobik digester jenis kolam tertutup, yang memanfaatkan suhu tinggi di Indonesia, memberikan efisiensi tinggi dalam produksi biogas dan pengolahan limbah.

    Potensi Biogas dalam Co-Firing

    Selain itu, biogas yang dihasilkan dapat digunakan dalam aplikasi co-firing dengan bahan bakar fosil untuk menjalankan boiler, meningkatkan efisiensi energi, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Co-firing ini memungkinkan pabrik memanfaatkan energi terbarukan secara fleksibel dan berkelanjutan, sambil meminimalkan dampak lingkungan. Dengan teknologi yang terus berkembang dan dukungan dari solusi seperti yang ditawarkan oleh Organics Group, potensi biogas sebagai sumber energi di Indonesia semakin besar dan mendukung pencapaian tujuan Net Zero.

     

    Organics Group – Sistem Anaerobic Digester

    Organics Group menyediakan berbagai solusi anaerobik digester yang dirancang untuk menangani berbagai jenis bahan baku dan kondisi operasional spesifik. Kami menawarkan dua jenis sistem utama: CSTR (Continuously Stirred Tank Reactor), CLBR (Closed Lagoon Biogas Reactor), dan TPAD (Thermally Phased Anaerobic Digestion).

    Sistem CSTR kami dirancang untuk memberikan efisiensi tinggi dalam proses pengadukan terus-menerus, ideal untuk bahan baku yang memerlukan homogenisasi intensif. Di sisi lain, sistem CLBR kami menggunakan kolam tertutup yang memungkinkan proses degradasi organik dalam kondisi termofilik, memanfaatkan suhu tinggi di Indonesia untuk meningkatkan laju produksi biogas. 

    Kami juga menawarkan TPAD, yang menggabungkan fase mesofilik dan termofilik untuk meningkatkan hasil biogas dan mengurangi waktu retensi. Fleksibilitas ini memungkinkan kami untuk menyediakan solusi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik Anda.

    Kami menyediakan layanan komprehensif mulai dari desain hingga implementasi sistem anaerobik yang dapat diadaptasi untuk berbagai jenis air limbah industri. Material limbah yang kami tangani meliputi tapioka, kelapa sawit, padi, dan daun kelapa, yang semuanya dapat menghasilkan effluen yang memerlukan penanganan khusus untuk mengoptimalkan konversi menjadi biogas.

    Di Indonesia, Organics Group telah berhasil menginstal empat sistem anaerobik digester di Sumatra dan Kalimantan. Hasil dari sistem ini sangat bervariasi: beberapa digunakan untuk co-firing dengan bahan bakar fosil, sementara yang lain untuk pembangkit listrik. Selain itu, ada juga surplus energi yang dihasilkan dan diekspor ke PLN untuk mendukung jaringan listrik nasional. Untuk informasi lebih lanjut tentang proyek-proyek ini dan hasil yang telah dicapai, Anda dapat mengunjungi portfolio kami.

    Sumber:

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Jakarta: Kementerian ESDM.

    Wijaya, A., & Sutrisno, T. (2018). Pemanfaatan Biogas dari POME untuk Menghasilkan Energi Listrik pada Pabrik Kelapa Sawit di Indonesia. Jurnal Energi Baru dan Terbarukan, 9(2), 113-125.

    Zhang, Y., & Wang, H. (2017). Four Stages of Anaerobic Digestion: A Review. Renewable Energy Reviews, 74, 411-426. https://doi.org/10.1016/j.rser.2017.02.020

    Kumar, S., et al. (2021). Co-firing of Biogas and Coal for Reducing Greenhouse Gas Emissions. Renewable Energy Journal.

    International Renewable Energy Agency (IRENA). (2022). Renewable Energy Technologies: Co-firing Biogas in Industrial Boilers. IRENA Publications.

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru.

    Exciting News: Organics dan Bumitama Gunajaya Agro Jalin Kerja Sama untuk Proyek Biogas Terbaru

    Exciting News: Organics dan Bumitama Gunajaya Agro Jalin Kerja Sama untuk Proyek Biogas Terbaru

    Isometric illustration of Anaerobic Digester in Organics Bali

    Written by

    Kami dengan bangga mengumumkan tonggak penting dalam perjalanan kami menuju energi berkelanjutan! Pada tanggal 26 Agustus, Organics resmi menandatangani kesepakatan dengan Bumitama Gunajaya Agro untuk memulai proyek inovatif yang memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk co-firing. Penandatanganan ini dilakukan di kantor pusat Bumitama Gunajaya Agro di Jakarta Selatan.

    Tentang Proyek Ini

    Proyek ini yang sudah dimulai sejak 5 Agustus 2024, berlokasi di Kalimantan Tengah di pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 75 ton per jam (TPH) tandan buah segar (TBS). Biogas yang digunakan dalam proyek ini dihasilkan dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (POME). Proyek ini dirancang dengan fokus pada Co-Firing untuk Efisiensi Boiler. Selain itu, biogas dari POME akan digunakan untuk co-firing guna mengoperasikan boiler pabrik kelapa sawit, sehingga proses menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

    [edm_gallery _builder_version=”4.27.0″ _module_preset=”default” gallery_ids=”34389,34388,34387,34386″ gallery_layout=”masonry” number_of_col=”2″ hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″][/edm_gallery]

    Kemitraan Strategis untuk Keberlanjutan

    Kemitraan dengan Bumitama Gunajaya Agro ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam komitmen kami terhadap energi terbarukan dan praktik industri yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari POME, kami berupaya memberikan kontribusi nyata untuk mengurangi emisi karbon dan mempromosikan solusi energi bersih dalam industri kelapa sawit.

    Mengapa Ini Penting

    [edm_gallery _builder_version=”4.27.0″ _module_preset=”default” gallery_ids=”34391,34390″ gallery_layout=”masonry” number_of_col=”2″ hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″ min_height=”223.4px”][/edm_gallery]

    Proyek ini tidak hanya berfokus pada konversi energi, tetapi juga mengubah cara industri melihat keberlanjutan. Integrasi biogas dari POME untuk boiler operation di Kalimantan Tengah menyoroti potensi inovatif dari teknologi energi terbarukan dalam mengatasi tantangan lingkungan global. Kami juga menggunakan digester biogas atau reaktor biogas untuk memastikan proses yang optimal.

    Biogas management akan menjadi aspek kunci dalam operasional proyek ini, termasuk biogas monitoring dan manajemen limbah biogas waste management untuk meminimalisir dampak lingkungan.

    Melangkah ke Masa Depan

    [edm_gallery _builder_version=”4.27.0″ _module_preset=”default” gallery_ids=”34392,34292,34251,33507″ gallery_layout=”masonry” number_of_col=”2″ hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″ min_height=”230.4px”][/edm_gallery]

    Saat proyek ini dilaksanakan tahun ini, kami sangat antusias tentang dampak positif yang akan dihasilkan baik pada operasi kami maupun pada lingkungan. Kami bersyukur atas kepercayaan dan kemitraan dengan Bumitama Gunajaya Agro, dan yakin bahwa kerja sama ini akan menetapkan standar baru untuk keberlanjutan dalam industri.

     

    Tetap Terhubung

     

    Terus ikuti perkembangan kami seiring kami mewujudkan proyek ini, membuka jalan untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Stay tuned untuk mengetahui update progres proyek kami. Kami juga akan berbagi artikel tentang biogas dan renewable energy news secara berkala melalui situs web dan sosial media kami, termasuk panduan tentang cara kerja pembangkit listrik tenaga biogas, teknologi biogas generator, serta informasi tentang komponen digester biogas

    Post Terbaru

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Indonesia, sebagai produsen utama minyak kelapa sawit di dunia, menghadapi tantangan signifikan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit. Setiap tahunnya, sejumlah besar residu pertanian seperti janjang kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB),...

    Membuka Potensi Biochar untuk Carbon Credit Indonesia

    Membuka Potensi Biochar untuk Carbon Credit Indonesia

    Recent PostSeiring dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim, pemerintah Indonesia semakin mendorong berbagai sektor industri untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini dilakukan melalui penerapan regulasi dan inisiatif yang mendukung pengurangan emisi gas rumah...

    Lainnya..

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru

    Net Zero Waste Roadmap & Potensi Energi Terbarukan Industri Kelapa Sawit

    Net Zero Waste Roadmap & Potensi Energi Terbarukan Industri Kelapa Sawit

    Isometric illustration of Anaerobic Digester in Organics Bali

    Written by

    Post terbaru

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Monetisasi Limbah Residu: Produksi Biochar di Sektor Kelapa Sawit

    Indonesia, sebagai produsen utama minyak kelapa sawit di dunia, menghadapi tantangan signifikan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit. Setiap tahunnya, sejumlah besar residu pertanian seperti janjang kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB),...

    Lainnya….

    Pabrik kelapa sawit memiliki potensi besar untuk mendukung transisi menuju energi terbarukan melalui pengelolaan limbah yang efektif. Salah satu cara inovatif yang semakin mendapat perhatian adalah pemanfaatan limbah cair seperti POME (Palm Oil Mill Effluent) untuk menghasilkan biogas. Ini adalah solusi yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Selain itu, dengan mengolah limbah padat menjadi biochar melalui proses pirolisis, pabrik kelapa sawit dapat berkontribusi lebih jauh dalam upaya pengurangan emisi karbon. Hal ini mendukung penerapan Net Zero Waste Roadmap, yang semakin relevan dalam konteks keberlanjutan.

    1. Palm Oil Mill Production: Mengelola Limbah Menjadi Sumber Energi

    Produksi di pabrik kelapa sawit dimulai dengan proses ekstraksi minyak dari tandan buah segar (TBS). Proses ini menghasilkan berbagai jenis limbah, baik cair maupun padat, yang memerlukan pengelolaan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu limbah cair utama yang dihasilkan adalah POME (Palm Oil Mill Effluent), yang dapat diolah menjadi biogas melalui biogas treatment system.

    Sebagai contoh, pabrik kelapa sawit dengan kapasitas produksi 60 ton TBS per jam dapat menghasilkan sekitar 4.000-6.000 Nm³ biogas per hari. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan bahan organik dalam POME yang menjadikannya sumber bahan bakar biogas yang efektif. Selain itu, limbah lain yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit seperti tandan kosong, cangkang, dan serat juga dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biogas atau digunakan sebagai sumber energi terbarukan lainnya. Oleh karena itu, pengolahan limbah ini, termasuk konversi POME menjadi biogas, merupakan langkah penting untuk memanfaatkan limbah cair menjadi bahan bakar yang berpotensi tinggi.

    2. POME : Bahan Baku Biogas yang Ideal

    POME adalah limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan minyak sawit. Secara umum, POME memiliki kandungan organik yang sangat tinggi, termasuk asam lemak, minyak, dan padatan tersuspensi. Kandungan organik yang tinggi ini, terutama nilai COD dan BOD yang signifikan, membuat POME sangat berbahaya jika tidak dikelola dengan baik. Sehingga, COD dan BOD yang tinggi mencerminkan jumlah besar oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik dalam air, yang dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut di badan air jika POME dibuang tanpa pengolahan. Ini dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik dan merusak ekosistem air.

    Oleh karena itu, POME adalah material yang ideal untuk biogas plant karena beberapa alasan utama:

    • Kandungan Organik yang Tinggi: POME memiliki nilai COD (Chemical Oxygen Demand) sekitar 50,000 – 80,000 mg/L dan BOD (Biochemical Oxygen Demand) sekitar 25,000 – 35,000 mg/L, menjadikannya sangat cocok untuk biogas treatment system. Tingginya kandungan organik ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam pembuatan biogas melalui proses anaerobik dalam reaktor biogas seperti digester biogas.
    • Volume yang Besar dan Konsisten: Setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah dapat menghasilkan sekitar 0,5-1,2 ton POME. Karena ketersediaan POME yang melimpah ini mendukung biogas waste management dalam skala besar, maka memungkinkan biogas plant untuk beroperasi secara berkelanjutan dan efisien.
    • Efisiensi dalam Mengurangi Dampak Lingkungan: Mengolah POME dalam biogas plant tidak hanya menghasilkan energi terbarukan tetapi juga mengurangi dampak lingkungan dengan signifikan. POME, jika tidak diolah, dapat mencemari lingkungan.
    • Komposisi yang Menguntungkan untuk Proses Anaerobik: POME memiliki pH dan suhu yang mendekati optimal untuk proses pembuatan biogas dalam biogas digester. Kandungan nutrisinya mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang diperlukan untuk biogas monitoring dan produksi biogas.

    Pemanfaatan Biogas dari POME: Solusi Lingkungan dan Ekonomi

    Biogas adalah solusi yang paling ideal untuk mengolah POME (Palm Oil Mill Effluent) karena tidak hanya menawarkan efisiensi energi dengan menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga memberikan keuntungan lingkungan yang signifikan. Selain itu, dari segi komersial, meskipun biaya awal investasi cukup tinggi, biogas dapat menjadi pendapatan jangka panjang yang menguntungkan. Lebih lanjut, hasil dari biogas dan residunya, seperti pupuk organik dan biochar, menawarkan peluang pendapatan tambahan dan nilai tambah, menjadikannya sebagai investasi yang berkelanjutan dan bermanfaat dalam jangka panjang.

    Organics Bali memiliki keahlian dan teknologi canggih dalam memanfaatkan potensi POME untuk produksi biogas. Dengan standar teknologi Eropa yang berkeandalan tinggi, kami memastikan bahwa pabrik biogas kami beroperasi secara efisien dan lancar setelah proses komisioning. Kami telah menginstal dan mengoperasikan empat pabrik biogas aktif di Indonesia, termasuk di Sumatera dan Kalimantan. Klik link berikut untuk melihat portofolio kami dan menemukan bagaimana kami dapat membantu Anda mengoptimalkan potensi POME menjadi biogas yang menguntungkan.

    3. Limbah Padat: Mengubah Sisa Menjadi Biochar

    Selain POME, pabrik kelapa sawit juga menghasilkan berbagai jenis sampah padat seperti tandan kosong, pelepah, cangkang sawit, dan serat. Setiap jenis sampah padat ini memiliki potensi untuk diolah menjadi biogas atau produk lain yang lebih bernilai, salah satunya adalah biochar.

    Namun, perlu dilakukan pengujian khusus untuk menentukan efektivitas dan kualitas biochar yang dihasilkan. Organics Bali memiliki fasilitas Research & Development di Bandung yang dilengkapi dengan alat khusus untuk melakukan pengujian ini. Lebih jauh lagi, kami menggunakan standar referensi dari World Biochar Certificate (WBC) dan Carbon Standards International untuk memastikan bahwa parameter kualitas biochar terpenuhi.

    4. Pirolisis: Proses Pengolahan Biomassa Menjadi Biochar

    Pirolisis biomassa adalah proses termokimia yang memecah bahan organik pada suhu tinggi tanpa oksigen. Salah satu produk dari proses pirolisis adalah biochar. Biochar memiliki berbagai manfaat, salah satunya adalah kontribusi terhadap carbon sequestration atau penyerapan karbon.

    Hasil dari proses pirolisis biomassa meliputi:

    • Biochar: Produk padat yang kaya karbon, berguna sebagai amelioran tanah, penyerap polutan, dan bahan bakar.
    • Biogas: Campuran gas, terutama metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂), yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.
    • Minyak Pirolisis (Pyrolysis Oil): Cairan kompleks yang terdiri dari berbagai senyawa organik, termasuk fenol, asam organik, dan keton. Minyak ini dapat digunakan sebagai bahan bakar atau diolah lebih lanjut menjadi bahan kimia.
    • Gas Terbang: Gas-gas ringan lainnya seperti hidrogen (H₂), karbon monoksida (CO), dan metana (CH₄) yang juga dapat digunakan sebagai bahan bakar.

    Hasil pirolisis ini bervariasi tergantung pada jenis biomassa, suhu pirolisis, dan kondisi proses.

    Biochar sebagai Solusi Ideal untuk Pengelolaan Biomassa

    Biochar adalah solusi yang ideal untuk pengolahan limbah padat kelapa sawit karena beberapa alasan utama:

    • Penyimpanan Karbon yang Efektif: Fotosintesis tanaman menyerap CO₂ dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa. Ketika tanaman mati atau ditebang, karbon ini kembali dilepaskan ke atmosfer sebagai CO₂. Pengelolaan biomassa yang berkelanjutan bertujuan untuk mencegah pelepasan karbon ini.
    • Pirolisis sebagai Solusi: Pirolisis adalah teknik kuno yang telah digunakan selama lebih dari tiga ribu tahun untuk mengatasi masalah pelepasan karbon. Secara khusus, proses ini melibatkan pemanasan biomassa dalam lingkungan tanpa oksigen, menghasilkan produk yang stabil.
    • Produksi Biochar: Selama pirolisis, biomassa diubah menjadi biochar, bentuk karbon yang stabil dan dapat digunakan sebagai amelioran tanah. Dengan demikian, biochar membantu meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
    • Metode Sequestrasi Karbon: Biochar berfungsi sebagai metode sequestrasi karbon, menyimpan karbon dalam bentuk yang tidak mudah terurai dan mencegahnya kembali ke atmosfer sebagai CO₂.
    • Kredit Karbon: Penggunaan biochar dalam pertanian dapat dikategorikan sebagai proyek pengurangan emisi yang berpotensi untuk mendapatkan kredit karbon, terutama dalam skema pasar karbon sukarela. Sebagai contoh, potensi biochar sebagai bagian dari solusi iklim di Indonesia diakui dan didukung oleh pemerintah Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Permen LHK Nomor 7 Tahun 2023 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan.

    Dengan menggunakan biochar, biomassa tidak hanya dikelola secara berkelanjutan tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan ekonomi melalui pengurangan emisi dan perdagangan kredit karbon.

    5. Complete Biogas Plant: Komponen Feedtrain Biogas

    Biogas feedtrain merujuk pada sistem atau proses yang digunakan untuk mengelola dan mengalirkan bahan baku (feedstock) ke dalam sistem pencernaan anaerobik untuk produksi biogas. Ini mencakup beberapa tahap penting dalam pengolahan bahan baku sebelum bahan tersebut masuk ke reaktor pencernaan anaerobik. Berikut adalah komponen utama dalam feedtrain biogas:

    1. Pembangkit Biogas

    Pembangkit biogas adalah komponen awal yang mencakup pengumpulan dan pencernaan bahan organik untuk menghasilkan biogas. Ini terdiri dari :

    • Anaerobic Digester (AD): Reaktor biogas di mana proses fermentasi anaerobik terjadi untuk menghasilkan biogas. Digester biogas adalah komponen esensial yang memungkinkan produksi biogas dari limbah organik.
    • Continuous Stirred-Tank Reactor (CSTR): Komponen digester biogas yang ideal untuk pengolahan POME karena memungkinkan pencampuran yang merata dan pemisahan gas yang efisien.

    Anaerobic Digester (AD) adalah komponen yang paling ideal untuk pabrik kelapa sawit karena mampu menangani volume POME yang besar dan menghasilkan biogas dengan efisiensi tinggi. Selain itu, sistem CSTR memungkinkan kontrol proses yang lebih baik, memastikan produksi biogas yang stabil, namun dengan harga yang lebih tinggi.

    2. Mesin Penggerak Biogas

    Mesin penggerak biogas berfungsi untuk memindahkan dan mengatur aliran biogas dari reaktor ke sistem pemurnian atau penyimpanan. Blower digunakan untuk menggerakkan gas biogas melalui sistem, sementara pompa gas membantu memindahkan biogas dari satu bagian sistem ke bagian lainnya. Kedua mesin ini penting untuk memastikan aliran gas yang stabil dan konsisten.

    3. Pemurnian atau Pengolahan Biogas

    Pemurnian atau pengolahan biogas adalah tahap di mana biogas dibersihkan dan diolah untuk menghilangkan kontaminan.

    • Bioscrubber menggunakan mikroorganisme untuk menghilangkan kontaminan
    • Chiller mendinginkan biogas untuk mengurangi kelembapan dan kondensasi.
    • Filter menghilangkan partikel padat dan kontaminan,
    • Siloxanes yang dapat merusak peralatan harus dihilangkan melalui proses pemurnian.
    • Flare berfungsi sebagai sistem pengaman untuk membakar gas yang tidak dapat disimpan atau digunakan, mengurangi risiko ledakan atau kebocoran.

    4. Gas Engine untuk Generator Listrik

    Setelah tahap pemurnian gas, tahap akhir adalah konversi biogas menjadi listrik melalui power house. Generator listrik di power house mengubah biogas yang telah dimurnikan menjadi listrik. Listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk kebutuhan operasional pabrik atau dijual ke PLN. Penjualan listrik harus mematuhi peraturan yang berlaku, yang akan dibahas di bagian selanjutnya.

    Selain menjadi Listrik, biogas juga dapat dimanfaatkan sebagai Co-Firing, dan manfaat-manfaat tersebut dapat menjadi sumber pendapatan jangka panjang. Klik link berikut ini untuk membaca artikel terkait apa saja yang dapat dimanfaatkan dari Biogas dan manfaatnya secara ekonomi. 

    6. Compressed BioMethane (CMB) 

     

    Compressed BioMethane (CBM) adalah bahan bakar biogas yang telah dimurnikan dan dikompresi menjadi metana murni, menawarkan efisiensi pembakaran yang lebih tinggi dan lebih bersih dibandingkan bahan bakar fosil. Proses pemurnian menghilangkan CO2 dan gas pengotor, sehingga menghasilkan CBM yang ideal sebagai bahan bakar alternatif.

    Di Indonesia, dengan banyaknya pabrik kelapa sawit, CBM dapat menjadi solusi efisien untuk bahan bakar truk pengangkut, dari buah hingga hasil akhir CPO. Selain manfaat ekonomi dari penghematan biaya bahan bakar, CBM juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

    CBM juga dapat dikembangkan menjadi BioLNG, dengan manfaat tambahan dari densitas energi yang lebih tinggi. Untuk informasi lebih lanjut, tonton rekaman webinar kami dengan klik link di bawah ini:

    Regulatory Framework: Mendukung Pengembangan Biogas dan Biochar di Indonesia

     

    Penerapan teknologi biogas dan biochar di Indonesia tidak terlepas dari dukungan regulasi yang kuat. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk dalam pemanfaatan limbah industri seperti POME. Berikut adalah beberapa regulasi yang relevan:

    • Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
    • Permen LHK Nomor 7 Tahun 2023 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan
    • Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik

    Dengan dukungan regulasi ini, pabrik kelapa sawit yang menerapkan teknologi biogas dan biochar tidak hanya berkontribusi pada upaya keberlanjutan tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai insentif dan skema perdagangan karbon yang tersedia.

    Kesimpulan: Menuju Produksi Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

    Penerapan biogas dan biochar dalam pengelolaan limbah pabrik kelapa sawit menawarkan berbagai manfaat yang signifikan. Pertama, biogas dari POME tidak hanya menyediakan sumber energi terbarukan tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca, mendukung tujuan Net Zero Waste Roadmap. Kedua, biochar yang dihasilkan dari proses pirolisis limbah padat memberikan solusi pengelolaan biomassa yang berkelanjutan, sekaligus mendukung sequestrasi karbon dan memperbaiki kualitas tanah.

    Bersama Organics, pabrik kelapa sawit dapat mengadopsi teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi dampak lingkungan, dan membuka peluang ekonomi baru melalui perdagangan karbon dan produksi energi terbarukan. Selain itu, dukungan regulasi dari pemerintah Indonesia semakin memperkuat posisi biogas dan biochar sebagai bagian integral dari masa depan industri kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Sumber:

    Nasution, M. A., Wulandari, A., Ahamed, T., & Noguchi, R. (2020). Alternative POME treatment technology in the implementation of Roundtable on Sustainable Palm Oil, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), and Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) standards using LCA and AHP methods. Sustainability, 12(4101). 

    Sodri, A., & Septriana, F. E. (2022). Biogas power generation from palm oil mill effluent (POME): Techno-economic and environmental impact evaluation. Energies, 15(7265). 

    World Biochar Certificate. (2023). Guidelines for a sustainable production of biochar and its certification (version 1.0). Carbon Standards International. http://www.european-biochar.org

    Zhu, L., Lei, H., Zhang, Y., Zhang, X., Bu, Q., Wei, Y., Wang, L., & Villota, E. (2018). A review of biochar derived from pyrolysis and its application in biofuel production. SF Journal of Material and Chemical Engineering, 1(1007).

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru.

    Antusiasme Biogas & Pirolisis Ramaikan Booth Organics Bali di TPOMI 2024

    Antusiasme Biogas & Pirolisis Ramaikan Booth Organics Bali di TPOMI 2024

    Isometric illustration of Anaerobic Digester in Organics Bali

    Written by

    Post terbaru

    Bio Digester solusi Renewable Energy & Efisiensi

    Bio Digester solusi Renewable Energy & Efisiensi

    Bio Digester adalah teknologi ramah lingkungan yang mengubah limbah organik menjadi energi biogas dan pupuk organik berkualitas. Solusi ini membantu mengurangi pencemaran, menyediakan energi terbarukan, sekaligus memberi nilai tambah dari sisa limbah yang biasanya...

    Pada tanggal 18-19 Juli 2024, Teknologi Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) menjadi ajang penting bagi para profesional industri sawit untuk berkumpul dan berbagi inovasi. Acara ini bukan hanya menjadi tempat bagi kami untuk menunjukkan kapabilitas dalam pengelolaan dan penerapan energi terbarukan di Indonesia, tetapi juga menjadi momen di mana biogas dan pirolisis menjadi pusat perhatian, membuktikan bahwa minat terhadap teknologi pengolahan limbah semakin meningkat.

    Fokus Acara dan Minat yang Meluas

    Meskipun acara TPOMI ini secara umum berfokus pada teknologi untuk proses produksi di pabrik kelapa sawit, ternyata banyak pengunjung yang tertarik pada topik-topik di luar fokus utama, khususnya terkait konversi POME menjadi biogas dan teknologi pirolisis untuk pengolahan limbah padat seperti janki kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB). Ini menunjukkan bahwa aspek pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan semakin penting di industri kelapa sawit.

    Hal yang paling menarik adalah, ternyata banyak pengunjung yang sangat tertarik pada teknologi yang memungkinkan konversi Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi bersih melalui biogas. POME yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit memiliki potensi besar untuk diubah menjadi biogas, yang dapat digunakan dalam berbagai aplikasi seperti biogas power generation. Beberapa pengunjung juga menunjukkan minat besar pada bagaimana POME to biogas process flow diagram dan POME biogas plant design dapat diimplementasikan di pabrik mereka.

    Jika Anda tertarik untuk melihat lebih lanjut bagaimana teknologi ini diterapkan, silakan kunjungi halaman kami tentang portfolio proyek biogas di Indonesia.

    Ragam Pengunjung dan Aktivitas di Booth Kami

    Acara yang berlangsung dari pukul 7 pagi hingga 5 sore ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk mill owner, mill manager, engineering, konsultan, lembaga sertifikasi, dan akademisi. Hari pertama acara, khususnya, menjadi sangat padat dengan kunjungan yang terus berdatangan bahkan setelah acara resmi berakhir. Ini menggarisbawahi ketertarikan besar pada proyek dan perusahaan energi terbarukan di Indonesia serta potensi dan inovasi energi terbarukan yang kami hadirkan.

    Booth kami tidak hanya menjadi tempat diskusi tentang biogas waste management dan biogas management, tetapi juga menjadi platform untuk berbagi pengetahuan mengenai reaktor biogas dan biogas treatment system. Pengunjung dapat melihat langsung maket biogas plant yang sedang kami bangun di Kalimantan Timur, lengkap dengan sampel biomassa dan biochar hasil pirolisis, yang menarik minat banyak kalangan, termasuk emiten energi terbarukan yang hadir. Untuk memahami lebih dalam tentang biochar, Anda bisa membaca lebih lanjut di website kami.

    Konferensi yang Menarik dan Interaktif

    Selain interaksi di booth, konferensi yang diadakan selama TPOMI juga menawarkan topik-topik yang relevan dan bermanfaat. Beberapa tema utama termasuk Palm Oil Mill Project Management, aplikasi IoT untuk manajemen performa produksi dan sumber daya manusia, serta teknologi peningkatan kualitas produk minyak sawit. Ini memberikan wawasan mendalam tentang pengertian energi tak terbarukan dan contohnya serta bagaimana biodiesel dan biogas dapat menjadi solusi untuk masalah keberlanjutan di industri ini.

    Keberadaan tokoh-tokoh penting seperti perwakilan dari Kementerian ESDM, Dewan Minyak Sawit Indonesia, dan P3PI menambah bobot diskusi, menjadikannya kesempatan emas untuk membahas manfaat sumber energi baru dan terbarukan bagi kelangsungan industri. Diskusi tentang potensi dan inovasi energi terbarukan serta sumber dan teknologi energi terbarukan juga membuka jalan untuk kolaborasi lebih lanjut. Jika Anda tertarik dengan teknologi anaerobik digester yang menjadi topik hangat di acara ini, silakan baca artikel kami tentang proses dan apakah anaerobik digester itu.

    Materi Booth dan Respons Pengunjung

    Di booth kami, fokus utama adalah pada teknologi biogas dari POME, biogas to power, biogas to compressed biomethane, dan pirolisis untuk produksi biochar dari biomassa tanaman sawit. Banyak pengunjung yang menunjukkan minat pada proses pembuatan biogas dari biomassa ini, terutama karena biogas dapat dihasilkan dari pengolahan limbah seperti kotoran sapi dan sampah sayuran. Proses ini tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk biogas power generation atau sebagai bahan bakar alternatif.

    Pengunjung juga diajak untuk melihat lebih dekat komponen digester biogas dan cara kerja biogas monitoring melalui perangkat yang kami hadirkan. Tidak ketinggalan, berbagai gift menarik seperti datasheet produk, map, mousepad, gantungan kunci, dan pena menjadi suvenir yang diambil oleh banyak pengunjung sebagai kenang-kenangan dan informasi lebih lanjut tentang produk kami. Untuk mengetahui apakah biogas proyek yang menguntungkan, Anda dapat melihat lebih detail di artikel kami apakah biogas proyek yang menguntungkan.

    Selain itu, di booth kami juga dipamerkan biogas plant dengan teknologi mutakhir, yang mencakup detail tentang POME treatment system dan pengolahan POME limbah kelapa sawit. Ini menegaskan bagaimana limbah POME yang merupakan limbah sawit dapat diubah menjadi energi yang bermanfaat melalui POME biogas plant. Untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang potensi biogas, kami akan membahas secara mendalam mengenai potensi biogas di Industri minyak kelapa sawit di Artikel kami. 

    Biogas from POME

    Teknologi kami mencakup anaerobic digester (AD) dan CSTR. Di Indonesia, lebih banyak digunakan AD karena relatif lebih murah dan mudah dalam hal maintenance dan operasi. Desain AD kami dirancang khusus untuk memastikan keandalan. Untuk detail fitur produk kami, Anda bisa cek di artikel kami tentang desain anaerobik digester. Di pameran, kami juga menghadirkan maket biogas kami agar pengunjung bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang produk dan prosesnya.

    Biogas to Power

    Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi, seperti cofiring untuk boiler guna mengurangi biaya pembelian batubara, serta sebagai sumber listrik untuk operasi pabrik, rumah, maupun estate. Listrik dari biogas sangat berguna untuk daerah terpencil yang biasanya jauh dari pusat kota dan biaya listriknya mahal. Untuk referensi proyek kami, silakan cek di link portfolio proyek biogas. Dari portfolio tersebut, kami dapat mencapai kebutuhan listrik hingga 2 MWe untuk kapasitas pabrik sekitar 60 tph. Bahkan ada proyek di mana listriknya dijual ke PLN.

    Pyrolysis and Biochar

    Biochar saat ini sedang berkembang di Indonesia dan mulai banyak diminati karena biomassa bisa diubah menjadi nilai yang lebih tinggi dan bisa jadi penyubur tanah yang memiliki nilai Carbon Sequestration yang baik. Kami saat ini memiliki lab di Bandung yang menguji dan membuktikan hasil tersebut. Sampel biochar juga dipajang dan dapat dilihat di booth kami.

    Untuk desain pirolisis yang telah terinstal, saat ini baru ada di Chile dan Spanyol dengan bahan baku sampah. Desain kami fleksibel dan bisa menyesuaikan jenis bahan baku seperti EFB, palm oil trunk, dan lainnya. Produksi biochar dari residu biomassa mencegah sebagian besar karbon yang terkandung dalam biomassa terlepas ke atmosfer. Pyroclast mengunci hingga 3 ton CO₂ per ton biochar (dengan sekitar 80% kandungan C selama lebih dari 1000 tahun). Jika biochar ini dan CO₂ yang terikat di dalamnya dimasukkan ke dalam penyerap karbon permanen sebagai pembenah tanah atau pengisi, pendaur ulang menerima kredit kompensasi karbon.

    Pentingnya Edukasi dan Kesadaran tentang Energi Terbarukan

    Partisipasi kami di TPOMI 2024 tidak hanya berhasil menarik perhatian, tetapi juga membuka jalan bagi edukasi lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan energi baru dan terbarukan dan contohnya, serta tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan energi tak terbarukan. Sebagai bagian dari misi kami, kami terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia, dan TPOMI menjadi platform yang ideal untuk memperluas kesadaran ini.

    Selain presentasi teknis, kami juga berfokus pada meningkatkan pemahaman pengunjung tentang definisi dan prinsip kerja biogas serta teknologi dan cara pembuatan biogas. Kami percaya bahwa biogas dapat menjadi solusi yang berkelanjutan, dan keberhasilan kami dalam menarik perhatian pada acara ini membuktikan bahwa industri semakin menyadari pentingnya energi terbarukan.

     

    Kesimpulan dan Rencana Masa Depan

    Secara keseluruhan, kehadiran kami di TPOMI 2024 membuktikan bahwa minat terhadap teknologi biogas dan pirolisis sangat besar, terutama dalam konteks pengelolaan limbah di industri kelapa sawit. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengunjungi booth kami, dan kami berharap dapat terus berkolaborasi untuk mengembangkan solusi energi terbarukan yang lebih baik di masa depan.

    Hubungi kami

    Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem biogas dan manfaatnya bagi organisasi Anda, hubungi tim konsultasi energi berkelanjutan kami hari ini. Sambut inovasi hijau dan transformasikan strategi pengelolaan limbah Anda dengan solusi biogas terbaru.